Selasa, 13 Desember 2016

Renungan 10 Desember 2016

Tetap Setia

Galatia 4:8-9 TB
Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah.
Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?

Kesadaran kita akan kebaikan Tuhan menumbuhkan rasa cinta kita yang bertambah-tambah kepadaNya. Tetapi masalah-masalah sulit yang kita hadapi kadang kala membuat mata kita melirik kepada tuhan yang palsu yang katanya bisa segera menyelesaikan persoalan kita. Di situlah kesetiaan kita kepada Tuhan diuji. Tuhan sungguh setia, sayalah yang tidak setia. Kualitas kesetiaan diukur dengan yang namanya waktu. Semakin lama kita jadi Kristen, apakah kita tambah setia dengan Tuhan?

Kalau anda membandingkan Tuhan dengan uang, jabatan, pasangan, dan semua yang ada di dunia, kesetiaan anda dengan Tuhan pasti luntur. Tuhan adalah Tuhan. Dia diatas segalanya. Selalu ingat kebaikanNya dan cintai Dia lebih dari apapun juga.

Teman-teman,  lebih mendekatlah kepada Tuhan dalam segala keadaan dan jadilah setia.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan 09 Desember 2016

Kemampuan Dari Tuhan

Galatia 2:8 BIMK
Sebab Allah yang memberikan kepada Petrus kemampuan untuk menjadi rasul orang Yahudi, memberikan juga kepada saya kemampuan untuk menjadi rasul orang bukan Yahudi.

Untuk bisa melakukan sesuatu, kita perlu punya 2 hal ini : Kemauan dan Kemampuan.
Kemauan adalah kehendak kita sendiri. Kemampuan adalah dari Tuhan. Setiap orang punya kemampuan. Tetapi untuk mendapatkan hasil yang maksimal tidak bisa menggunakan kemampuan sendiri. Perlu ada kemampuan yang dari Tuhan.

Paulus adalah orang yang cerdas. Sekalipun demikian, dia tidak pernah menggunakan kemampuannya sendiri untuk menyelesaikan tanggung jawab yang Tuhan embankan.

Sebagai anak Tuhan kita harus hati-hati, seringkali kita terjebak melakukan sesuatu hal yang kecil dengan menggunakan kemampuan sendiri. Seringkali kita lupa, Tidak berdoa dulu dan minta pertolongan Tuhan. Sungguh, kita harus hati-hati!

Teman-teman, mari kita terus berharap dan mengandalkan Tuhan. Mintalah kekuatanNya. Dia yang selalu memampukan kita menyelesaikan bagian kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan 08 Desember 2016

Menganggap Diri Hebat

2 Korintus 10:12 BIMK
Tentu saja kami tidak berani membandingkan atau menempatkan diri kami sederajat dengan orang-orang yang menganggap dirinya tinggi. Alangkah bodohnya mereka! Mereka membuat ukuran sendiri dan menilai diri sendiri dengan ukuran itu.

Siapa dapat mengukur langit dengan bumi? Sulit sekal! Demikian dengan manusia. Seringkali seseorang diukur dengan prestasi, uang, kekayaan, dan banyak lagi.

Paulus mengingatkan jemaat di Korintus dan kita semua hari ini. Janganlah kita menganggap diri kita

Lebih hebat
Lebih kuat
Lebih kaya
Lebih pintar
Lebih tahu

daripada orang lain.

Jangan pernah menaruh ukuran terhadap orang lain.

Kita harus berkata : "Saya bukan siapa-siapa. Tuhan Yesus adalah segala-galanya."

Teman-teman, kita adalah tubuh Kristus yang saling membutuhkan. Mari kita membangun kerjasama yang baik satu dengan yang lain.

Tuhan Yesus memberkati.

Renungan 07 Desember 2016

Pelayanan Seorang Hamba

2 Korintus 6:4b (TB) 
Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah

Jaman dahulu seorang hamba tidak punya hak sama sekali. Hamba harus melakukan perintah tuannya sekalipun resikonya adalah kehilangan nyawanya. Mereka begitu mengerti apa arti "hamba" dan dapat dilihat dari ketaatannya.

Hari ini pemahaman tentang seorang hamba sudah sangat berubah, apalagi hamba Tuhan.
Mereka minta dihormati.
Namanya tidak disebut di mimbar marah-marah.
Kalau pelayanan minta fasilitas ini dan itu.
Tidak dapat ucapan terima kasih, tidak mau pelayanan lagi.
Tidak punya yang namanya pengorbanan sama sekali.

Itukah hamba Tuhan?

Paulus berkata : Dalam segala hal, dia menunjukkan bahwa dia adalah seorang hamba.

Di rumah, di kantor, di gereja, di mana saja, kita adalah hamba. Hambanya siapa? Hambanya Tuhan Yesus.

Teman-teman, miliki karakter seorang hamba, hamba yang dikenan oleh Tuannya.

Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 04 Desember 2016

Renungan 05 Desember 2016

Terima Dulu Baru Memberi

2 Korintus 1:3-4 TB
Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,
yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.

Banyak orang tahu tentang memberi. Tapi tidak banyak orang mengerti soal memberi. Kita tidak bisa memberi tanpa terlebih dulu menerima. Terima dulu dari Tuhan maka bisa memberi pada orang lain.

Untuk bisa menerima dari Tuhan, kita perlu belajar duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan instruksiNya. Duduk di kaki Tuhan berarti mengesampingkan semua aktivitas dan hanya berdua dengan Tuhan. Berdua dengan Tuhan itu sangat penting. Momen ini bisa kita pakai untuk menyerahkan semua rencana kita, curhat, bersyafaat untuk orang lain, membaca dan merenungkan Firman, mendengarkan suaraNya dan banyak lagi yang lain. Waktu seperti ini harus kita miliki tiap hari.

Teman-teman, engkau tidak bisa memberi apa yang engkau tidak punya. Jadilah penerima yang baik dan berilah dengan murah hati.

Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 03 Desember 2016

Renungan 04 Desember 2016

Menjadi Dewasa

1 Korintus 13:11 BIMK
Pada waktu saya masih anak kecil, saya berbicara seperti anak kecil, saya berperasaan seperti anak kecil dan saya berpikir seperti anak kecil. Sekarang saya sudah dewasa, kelakuan saya yang kekanak-kanakan sudah saya buang.

Pernahkah anda melihat anak-anak anda yang berebut mainan? Saya pun pernah. Itulah anak-anak. Sifat mereka menunjukkan siapa mereka. Setelah beranjak dewasa sifat mereka harus berubah. Umurnya 25 tahun, sifatnya tidak bisa seperti anak umur 6 tahun.

Tetapi banyak orang di gereja, yang labelnya Kristen, sifatnya tidak menunjukkan kedewasaan. Orang Kristen dituntun kedewasaannya.

Kedewasaan rohani terlihat dari karakternya, bukan dari banyaknya karunia.
Kedewasaan rohani bukan karena jabatan yang dimiliki.
Kedewasaan rohani bukan soal banyaknya uang.
Kedewasaan rohani bisa terlihat waktu seseorang menghadapi masalah dan menyelesaikannya.

Teman-teman, mari cek hidup kita, apakah sifat dan perilaku kita masih seperti anak-anak? Kalau anda mau dewasa, tinggalkan sifat dan perilaku anak-anak.

Selamat hari minggu. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan 03 Desember 2016

Hirarki Dalam Tuhan

1 Korintus 11:3 TB
Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah.

Keluarga adalah miniatur Surga di bumi. Keluarga pertama di dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Tapi sungguh disayangkan hari-hari ini banyak keluarga sudah tercerai-berai. Keluarga sudah tidak tahu susunannya lagi.

Sering terjadi, suami tidak lagi menjadi imam yang benar, tidak jadi contoh yang baik buat istri dan anak-anak. Ada istri yang mencoba jadi kepala, suami dan anak-anak harus tunduk padanya. Anak-anak juga sangat memberontak terhadap orang tua karena orang tua tidak menunjukkan perhatian terhadap mereka. Hirarki dalam kekuarga sudah rusak.

Hirarki yang benar dalam keluarga membangun perlindungan yang kuat dari serangan si jahat. Bila hirarki dalam keluarga tersusun dengan rapi dan berfungsi dengan baik akan memancarkan sinar kemulian Kristus.

Teman-teman, mari kita perhatikan keluarga kita masing-masing. Jadikan keluarga Surga di bumi ini.

Tuhan Yesus memberkati.